Pages Navigation Menu

Tips Beli Oleh-Oleh di Madinah

Tips Beli Oleh-Oleh di Madinah

Ketika berada di Madinah, kita akan mendapatkan paket city tour ke beberapa tempat penting di Madinah. Sudah standar bus akan mengajak kita ke Masjid Quba’, Masjid Qiblatain, Bukit Uhud, Percetakan Al-Qur’an, dan pusat oleh-oleh Madinah yakni Kebun Kurma.

Dari namanya, Kebun Kurma ini memang sebuah lahan luas yang berisi ratusan bahkan mungkin ribuan pohon kurma. Tapi jangan salah, isinya tidak melulu pohon kurma, di tempat tersebut juga berdiri sebuah toko luas. Di sinilah beragam oleh-oleh khas Madinah itu dijual, di antaranya kurma dengan beragam varian, produk olahan kurma, coklat beraneka rasa, madu, dan pelbagai jenis makanan lainnya. Luas tokonya mungkin 2—3 kali besarnya ritel-ritel di Indonesia semacam Alfamart atau Indomaret. Di sini kita memang lebih puas memilih karena variannya yang banyak dan swalayan alias ambil sendiri. Bahkan bagi yang bermuka tebal, kita bisa mencicipi item-item yang disuguhkan sepuasnya tanpa sungkan-sungkan… he he he.

Kebun kurma ini tak pernah sepi pengunjung, bahkan sering kali penuh sesak. Di luar musim haji, atau saat umrah, Kebun Kurma juga tetap ramai dikunjungi. Uniknya, 90% pengunjung adalah jamaah umrah asal Indonesia. Konon katanya, yang punya Kebun Kurma ini adalah orang Indonesia. Yang jelas, di tas kemasannya memang tertulis jelas Kebun Kurma xxxxxx (sesuai namanya) dengan bahasa Indonesia. Bisa jadi ada Kebun Kurma—karena jumlahnya tidak hanya satu—yang memang dimiliki orang Indonesia, wallahu a’lam.

Yang istimewa, Kebun Kurma mau menerima mata uang rupiah, dan itu dinilai dengan kurs yang “bersahabat”, sekitar Rp2.500,00. Kadang para pengunjung juga dimanjakan dengan suguhan teh atau kopi gratis, dengan duduk di atas sofa yang dikelilingi pohon kurma. Sangat bersahabat bukan?

Kebun kurma ini ternyata juga bersahabat bagi sopir-sopir asal Indonesia. Dari cerita mukimin asal Indonesia, pihak Kebun Kurma berani membayar setiap sopir bus yang mau mengajak jamaah umrah atau haji ke tempatnya sebesar 500 riyal atau setara Rp1.250.000,00. Jumlah yang lumayan bukan?

Lalu bagaimana bisa mereka membayar setinggi itu kepada para sopir bus?

Inilah ceritanya. Dari pengalaman, harga di Kebun Kurma memang relatif lebih mahal. Selisihnya bahkan terhitung lumayan. Coklat Turki misalnya, di sini dihargai 30 riyal per kilonya. Jika kita membeli di toko-toko di bawah atau di sekitar hotel di Madinah, standarnya adalah 20 riyal, bahkan ada yang kurang dari itu. Demikian juga kurma ajwa. Di Kebun Kurma harganya 80 riyal, di toko-toko lain atau Pasar Kurma, harganya berkisar antara 50—70 riyal. Bisa dibayangkan, jika satu bus—sekitar 40 orang—belanja semua, dengan selisih 30 riyal (saja) lebih mahal, tidak mengherankan jika pihak Kebun Kurma berani memberi tips kepada setiap sopir sebesar 500 riyal.

Apa pun, pilihan ada di tangan Anda. Yang jelas, beli di mana pun, kita harus jeli-jeli memilih terutama kurma ajwa. Kita tetap harus berhati-hati kadang kita menjumpai kurma ajwa yang sudah dikemas dalam toples plastik, namun itu ternyata produk lama. Sehingga tak lama sesudah sampai di Indonesia, cepat kering.

Maka, tak hanya berhati-hati dalam memilih belanjaan, tapi tak ada salahnya kita juga perlu berhati-hati dalam membelanjakan uang kita yang bisa jadi sangat terbatas. (admin www.pengalamanhaji.com)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *